Cerpen horor

 Mati?
.
.
.
.
.

Pagi itu seperti biasa, tak ada yang spesial dipagi ini. Entah sudah ke berapa kali aku merasa terasingkan disini.

Dulu seingatku, aku tak pernah seperti ini. Membayangkannya saja sudah membuatku hampir menangis saja rasanya apalagi melakukannya.

Aku tidak tau apa alasannya mereka semua melakukanku seperti ini? Apa ini hari ulang tahun ku? Sehingga mereka semua mengerjaiku? Tapi ini sudah keterlaluan...

"Pagi, Bu!" Sapa riang lelaki dari arah belakangku seraya melewatiku begitu saja lalu bercanda gurau dengan kedua orang tuaku. Dia Adik laki-laki kesayanganku tapi entah mengapa hari ini ralat sekarang dan selamanya dia akan mendiamiku persis seperti kedua orang tuaku.

Tes.

Satu tetes air mata turun begitu saja dari kelopak mataku dengan lihainya, kala melihat pemandangan didepanku. Harusnya aku juga ada disana namun percuma saja memanggil mereka semua, mereka semua tak akan mendengar.

Aku sudah mencoba ribuan kali memanggil mereka dengan teriakan nyaringku namun tak ada satupun yang ditanggapin oleh mereka. Sakit rasanya diasingkan seperti ini! Aku juga anak kalian! Bukan anak buangan!

Aku menoleh ke arah samping tepat dimana Ayahku berada sembari menyeruput kopi. Ayah! Ini putrimu, putri yang selalu kamu banggakan,dan kamu manjakan! Mengapa kamu meperlakukan ku seperti ini? Kenapa Ayah?

Kini aku berahli menatap ke arah Ibuku yang sedang menyiapkan makanan untuk Adikku. Bu... aku ingin dipeluk sekarang! Mengapa Ibu juga ikutan mendiamiku?

Sekarang aku menatap ke arah Adikku berada, nafasku memburu, air mata sudah tak dapat dibedung lagi. Adik! Kamu lah satu-satunya harapan keluarga ini... jaga Ibu dan Ayah ya? Kakak sayang kamu.

Aku lantas berlari dari sana dengan diiringi beberapa air mata yang terus saja keluar. Aku sudah tak bisa hidup seperti ini lagi! Aku sudah mencoba bunuh diri tapi esoknya aku malah masih berada dikasur.

Aku benci hidup seperti ini! Mengapa ini semua terjadi padaku? Apa salahku? Sebenarnya penyebabnya apa!

Langkahku berhenti lalu menoleh ke belakang seketika aku tersenyum miris saat tak ada satu pun dari mereka yang mengejarku lalu mengatakan kalau ini semua adalah prank.

Bodoh! Memangnya apa yang ku harapkan? Ini semua tak akan berakhir, mereka semua telah berubah...

Dengan langkah lesu aku berjalan menuju sekolahan, membiarkan baju dan keadaanku terbilang jauh dari kata baik-baik saja. Biarkan saja, toh mereka semua tak akan bisa melihatku.

Aku masih saja berjalan melalui banyak murid yang sudah bergosip ria seperti biasanya, aku juga ingin seperti itu...

Namun percuma saja...

Sekuat apapun aku berteriak mereka semua tak akan bisa mendengarku.

"Teman..."
"Mati..."
"Hihihi, kasihan..."
"Teman..."
Bising-bising nyaring itu terdengar amat jelas ditelingaku. Aku berjongkok menutup kedua telingaku sambil menutup kedua mataku erat-erat.

Selalu saja bisik-bisik itu yang terdengar, aku bukan gadis indigo! Mengapa aku bisa melihat hantu? Sejak kapan mata batinku terbuka? Dan mengapa mereka semua selalu saja mengucapkan kata yang sama!

"HENTIKAN!" Teriakku nyaring, namun malah bisik-bisik itu semakin terdengar kini sambil disertai beberapa kekehan dari mereka.

Aku menangis sejadi-jadinya, hidupku sudah hancur lebur! Mengapa masih diberi tambahan seperti ini?

Disela-sela tangisanku, tiba-tiba pundakku ditepuk seseorang. Aku lantas mendongak dengan wajah sembab.

"Ikut aku." Akhirnya ada juga yang bisa melihatku! Dia tak mendiamiku!

Aku senang bukan main lantas mengikutinya dengan langkah riang, berharap pria asing berkacamata itu dapat menjelaskan semua situasi yang ku jalani ini.

Pria itu membawaku dibelakang gudang yang sepi.

"Apa kau ta-" Ucapanku diputus olehnya.

"Kau sudah mati." Tiga kata tapi mampu membuatku diam membisu.

Jadi selama ini aku... oleh karena itu mereka semua berbicara 'Teman' lalu 'Mati'? Dan keluargaku...

Untuk sesaat aku terdiam dengan raut muka yang tidak dapat dideskripsikan.

"Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan? Hingga kamu sendiri tidak tau bahwa kamu sudah mati?"

"Aku mati?"

"Ya, aku sudah mengikutimu kemarin. Aku ingin memberitaumu tapi timenya selalu tak tepat, kamu selalu menangis. Aku jadi tak tega mengucapkannya."

"Kamu bohongkan!" Elakku dengan emosi yang meledak-ledak.

"Tidak, aku indigo. Aku bisa melihat arwah-arwah disekitar sini begitu juga denganmu."

Ucapan itu mampu membuatku jatuh terduduk dibawah. Perlahan air mataku mengalir. Tak ada raut wajah sedih atau apapun yang ada hanya raut wajah sedih.

Aku ingin berlari lali berteriak ke arah manusia-manusia disini bahwa aku tak suka seperti ini, hentikan saja prank ini. Namun aku ingat sesuatu...

Kejadian lampau yang membuatku kembali terisak.


Komentar